Selamat Datang DI WWW.WACANADHARMA.BLOGSPOT.COM

Minggu, 24 April 2011

Agni hotra


 Agni hotra dan homa terapy

Yatra suharda? suk?tam – agnihotrahuta? yatra loka?, ta? loka? yamniyabhisambhuva  sa no ma hi?sit purusan pasu?uca – Di mana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal,  orang yang pikirannya damai dan mereka yang mempersembahkan Agnihotra, di sanalah majelis (pimpinan masyarakat) bekerja dengan baik, memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka dan binatang ternaknya.  Atharvaveda XXVIII.6
A. Ho?a  Yajña/Agnihotra dalam kitab suci Veda dan susastra Sanskerta

Sumber tertua tentang upacara Ho?a  Yajña/Agnihotra dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda khususnya kitab ?gveda X.66.8. Demikian pula kitab Atharvaveda VI.97.1 dan yang lain-lain yang secara tradisional oleh umat Hindu di India disebut Yajña atau Yaga. Jadi bila di India kita mendengar umat Hindu melakukan Yajña atau Yaga yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra walaupun secara leksikal pengertian Yajña atau Yaga jauh lebih luas dibandingkan dengan Agnihotra. Agnihotra dalam pengertian leksikal (masculinum, neutrum dan femininum) yang dimaksud persembahan suci kepada Sang Hyang Agni (api suci) teristimewa adalah persembahan susu, minyak susu dan susu asam. Ada dua macam Agnihotra yaitu yang dilakukan secara rutin (konstan) umumnya 2 kali sehari pagi dan sore (nitya atau nityakala) dan Agnihotra yang dilakukan secara insidental (kamya atau naimitikakala/Monier, 1993: 6).

Istilah yang lain untuk Ho?a  Yajña/Agnihotra adalah Huta (persembahan kepada Sang Hyang Agni) oleh karena itu kita mengenal pula istilah Hot?i yang juga berarti api. Agnihotra juga disebut Havan dan kata Havani berarti sendok (yang dalam bahasa Sanskerta disebut Juhu) untuk menuangkan persembahan cair. Nama Ho?a  mengandung arti persembahan berbentuk cairan yang dituangkan ke dalam api suci (Loc.Cit.). Sumber-sumber lainnya tentang upacara Agnihotra adalah kitab-kitab Brahma?a di antaranya Kausitaki, Sathapatha, dan Aitareya Brahma?a. Selanjutnya bila kita melihat-kitab-kitab Sutra khususnya tentang Kalpasutra, G?hyasutra, Srautasutra dan lain-lain selalu kita menemukan informasi tentang betapa pentingnya upacara Ho?a  Yajña/Agnihotra ini. Kitab-kitab Srautasutra  (Asvalayana S.S.II.1.9, Sa?khayana S.S.II.1, Lathyayana S.S.IV.9.10., Katyayana S.S.IV.7-10., Manava S.S.I.5.1., Varaha S.S.I.4.1., Baudhayana S.S.II., Bharadvaja S.S.V., Apastamba S.S.V.1., Hira?yakesi S.S.III.1-6, Vaikhanasa S.S.I, Vadhua S.S.1.,Vaitana S.S.5-6) menggambarkan bermacam-macam bentuk tentang persembahan Ho?a  Yajña / Agnihotra yang secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: Seorang pelaksana Agnyadhana hendaknya setiap hari mempersembahkan persembahan kepada api suci Agnihotra pagi dan sore hari apakah dilakukan oleh perseorangan atau di bawah pimpinan seorang Adhvaryu. Bila tiada seorang Adhvaryu yang memimpin, kepala keluarga dapat melakukannya teristimewa pada waktu bulan purnama dan bulan baru terbit. Dari kitab-kitab Srautasutra  dan juga kitab Brahma?a kita mendapat informasi tentang betapa pahala yang diperoleh bagi mereka yang mempersembahkan atau melaksanakan upacara Agnihotra, dinyatakan bahwa segala keinginannya akan tercapai. Api suci hendaknya tetap menyala pada rumah-rumah para G?hastha. Mereka yang secara rutin melakukan Agnihotra, maka kemakmuran akan dapat terwujud. Agnihotra dengan mempersembahkan biji-bijian, minyak susu, susu, susu asam dan lain-lain yang kini di India disebut Samagri, diikuti dengan pengucapan mantram-mantram, terutama mantram Veda dan hendaknya dilakukan seseorang selama hidupnya atau sampai mencapai tingkatan hidup sebagai Sa?nyasin (Ram Gopal, 1983: 535). Ho?a  Yajña/Agnihotra merupakan persembahan wajib yang dilakukan oleh setiap G?hastha  karena hanya G?hastha secara sempurna dikatakan dapat melakukan Yajña dan Agni yang dimaksud dalam Agnihotra adalah Tuhan Yang Maha Esa yang bila dilaksanakan pada pagi hari maka persembahan itu ditujukan kepada Surya, mantram yang selalu diucapkan adalah:
O? Bhur Bhuva? Sva? O? Surya Jyoti? Jyoti? Surya Svaha  dan bila dilakukan sore hari (menjelang malam) ditujukan kepada Agni dengan mengucapkan mantram:
O? Bhur Bhuva? Sva? O? Surya Jyoti? Jyoti? Agni Svaha (Abhinash Chandra Das, 1979: 493).
Selanjutnya dalam kitab-kitab Itihasa dan Pura?a dan juga kitab-kitab Agama atau Tantra, upacara Agnihotra senantiasa dilaksanakan dan tentu pula mantram yang digunakan, di samping mantram-mantram Veda adalah mantram-mantram yang bersifat Pauranic, Agamic atau Tantrik. Kini kita melihat umat Hindu di India, bahwa setiap kegiatan upacara, maka upacara Agnihotra senantiasa merupakan persembahan yang istimewa, artinya dalam perkawinan, upacara kematian, upacara Sarira Sa?skara (yang di Indonesia disebut Manusa Yajña) dan pada hari-hari raya keagamaan, upacara Agnihotra senantiasa dilaksanakan. Bagi Sampradaya Arya Samaj yang didirikan oleh Swami Dayananda Sarasvati (1875) maka upacara ini merupakan kewajiban suci yang mesti dilaksanakan.

B. Ho?a  Yajña/Agnihotra menurut sumber Jawa Kuno (Kawi)



Bila kita membuka sumber tertua Jawa Kuno, maka dalam bagian awal dari kakawin Ramayana, yakni ketika prabhu Dasaratha memohon kelahiran putra-putranya dipimpin oleh Maharsi ??yas??ga keturunan Gadhi kita mendapatkan informasi tentang upacara Agnihotra sebagai berikut:

    * Saji ning yajña ta humadang, sri w?k?a samiddha pu?pa gandha phala,
      dadhi gh?ta k???atila madhu. mwang kusagra w?tti weti? (24)
    * Lumekas ta sira maho?a , pretadi pisaca raksasa minantram, bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang Yajña (25)
    * Sakali karana ginawe, awahana len pratista sannidhya, Parameswara inangen-angen, umunggu ring kunda bahnimaya (26).
    * Sampun Bhatara inenah, tinitisaken tang miñak sasomyamaya, lawan k???atila madhu, sri w?k?a samiddha rowang nya (27)
    * Sang Hyang Kunda pinuja, caru makulilingan samatsyamangsadadhi, kalawan sekul niwedya. inames salwir nikang marasa (28)
    * Ri sedeng Sang Hyang dumilah, niniwedyaken ikanang niwedya kabeh, Osadi len phala mula, mwang kembang gandha dhupadi (29)
    * Sampun pwa sira pinuja, bhinojanan sang mahar?i paripurna, kalawan sang wiku saksi, winursita dinaksinan ta sira (30). Ramayana I. 24-30.

v  Sesajen upacara korban telah siap, kayu cendana, kayu bakar, bunga, harum-haruman dan buah-buahan, susu kental, mentega, wijen hitam, madu, periuk, ujung alang-alang, bedak dan bertih (24).

v  Mulailah beliau melangsungkan upacara korban api (Agnihotra), roh jahat dan sebagainya, pisaca dan raksasa dimentrai. Bhuta Kala semuanya diusir, segala yang akan menggangu upacara korban itu (25).

v  Segala perlengkapan upacara telah tersedia. Doa dan tempat peralatan hadirnya Devata. Bhatara Siva yang dimohon kehadiran-Nya, hadir pada tunggu persembahan (26).

v  Sesudah Devata disthanakan, diperciki minyak “sO?a”, wijen hitam dan kayu cendana beserta kayu bakar (27).

v  Api ditungku dipuja, di kelilingi dengan caru dan ikan, daging dan susu kental, bersama nasi sesaji persembahan, dicampur dengan segala yang mengandung rasa (28).

v  Pada waktu api di tungku itu menyala-nyala, dipersembahkan sesaji itu semua, tumbuh-tumbuhan bahan obat-obatan, buah-buahan dan akar-akaran, kembang harum-haruiman, dupa dan sebagainya (29).

v  Sesudah Beliau disembah (selesai acara pemujaan), disuguhkan suguhan kepada para maharsi, bersama para wiku (pandita) yang menjadi saksi, mereka dihormati dipersembahkan hadiah untuk beliau (30).

Sumber Jawa Kuna lainnya adalah Agastya parwa (355) yang menjelaskan berbagai macam Yajña (Pañca Maha Yajña) yang dalam uraiannya tentang Deva Yajña secara tegas menyatakan bahwa Deva Yajña adalah persembahan kepada Sivagni yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra sedang Korawasrama, menyatakan bahwa Deva Yajña adalah upacara persembahan berupa makanan dan pengucapan mantram-mantram Stuti dan Stava (Hooykaas, 1975: 247) menunjukkan bahwa mantram Veda merupakan sarana dalam Deva Yajña yang tidak lain juga hampir sama dengan pelaksanaan Agnihotra. Di dalam kakawin Sutasoma 79.8, Tantri Kamanîaka 142 dan Nagarak?tagama 8.4 dinyatakan bahwa upacara Agnihotra atau Ho?a yajña tersebut merupakan pusat dari upacara korban.

Sumber lainya dalam bahasa Jawa Kuno adalah kitab Adiparwa (197) yang menyatakan: mangarpa?aken udakañjali, magaway agnihortra, yang artinya memper-sembahkan air penyuci tangan dan melaksanakan Agnihotra (Mardiwarsito,1981: 13). Di samping sumber tersebut di atas, pelaksanaan Agnihotra atau Ho?a yajña dijelaskan pula dalam kitab-kitab susastra Jawa Kuno seperti: Brahmanda Purana 127 dan 178, Wirataparwa 12, Ramayana 5.9, SutasO?a 1.11;109.4;110.6;119.12, Nagarak?tagama 83.6, Nitisastra 8.1;1.114, Tantu Pagelaran 90, Kidung Harsawijaya 6.85; 6.93, Arjunawijaya 53.3; 53.4, Partayajña 11.10, Sasasamuccaya 64, Slokatara 41, Tantri Kamandaka 38, Tantri Kadiri 1.38, Calon Arang 122. Salah satu usaha untuk menyucikan diri bagi seorang Sadhaka adalah dengan melakukan Agnihotra atau Ho?a yajña:

Suddha ngaranya eñjing-eñjing madyus, asuddha sarira, masurya sewana, mamuja,
majapa, maho?a  - Bersihlah namanya, tiap hari membersihkan diri, sembahyang kepada Sang Hyang Surya , melakukan pemujaan, melakukan Japa dan melaksanakan Ho?a yajña. Silakrama, lamp.41.

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, bahwa Agnihotra atau Ho?a Yajña dilaksanakan pula di Indonesia (Bali) dan sebagai pendukung data ini kita masih dapat mengkajinya melalui peninggalan purbakala (arkeologi) dan tradisi yang hidup dalam masyarakat. Salah satu peninggalan purbakala adalah adanya lobang api (Yajñasala atau Vedi) tempat dilaksanakan-nya upacara Agnihotra. Tempat atau lobang api ini dapat pula kita saksikan di salah satu Gua Pura Gunung Kawi yang diyakini oleh penduduk sebagai Geria Brahmana terdapat sebuah lobang dalam sebuah altar di tengah-tengah gua, yang rupanya dikelilingi duduk oleh pelaksana upacara Agnihotra. Peninggalan berupa lobang tempat api unggun itu adalah Yajñakunda (Yajñasala) dikuatkan pula dengan adanya lobang api di bagian atap sebagai ventilasi keluarnya asap dari tempat dilangsungkannya upacara Agnihotra. Nama-nama seperti Keren, Kehen, Hyang Api Hyang Agni (Hyang geni) dan Sala menunjukkan tempat yang berkaitan dengan dilangsungkannya upacara Agnihotra.

Sumber tradisi di antaranya adalah penggunaan pasepan oleh para pamangku, dedukun atau sedahan desa, menunjukkan pula pelaksanaan


Shri Danu Dharma P. (I Wayan Sudarma)


==========================================================================

homa terapy

info terapi dengan homa,

 Agnihotra adalah api penyembuhan dari ilmu kuno Ayurveda. Ini adalah proses memurnikan suasana melalui disiapkan api khusus dilakukan pada matahari terbit dan terbenam harian.  Siapa pun dalam setiap jalan kehidupan dapat melakukan Agnihotra dan menyembuhkan suasana di / rumahnya sendiri.. Ribuan orang di seluruh dunia telah mengalami bahwa Agnihotra mengurangi stres, mengarah pada kejelasan pemikiran, meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, memberikan satu energi meningkat, dan membuat pikiran lebih penuh cinta. . Ini merupakan bantuan besar untuk dan alkohol deaddiction obat. . Agnihotra juga memelihara tanaman hidup dan menetralkan radiasi berbahaya dan bakteri patogen. . Hal ini selaras fungsi Prana (energi kehidupan) dan dapat digunakan untuk memurnikan sumber daya air.

  Agnihotra adalah ilmu kuno yang diberikan dalam bahasa Sansekerta pada saat penciptaan. SaSansekerta tidak pernah bahasa ibu seseorang, yang merupakan bahasa getaran. Kita bisa membuat perubahan dalam suasana dengan mantra Sansekerta dan api disusun dengan zat organik tertentu, waktunya untuk matahari terbit / Biorhythm matahari terbenam. Api dipersiapkan dalam piramida kecil tembaga ukuran tertentu dan bentuk. beras Brown, dikeringkan cowdung (pupuk kandang) dan ghee (mentega tawar diklarifikasi) adalah zat dibakar. Tepat pada saat matahari terbit atau terbenam mantra diucapkan dan sejumlah kecil beras dan ghee diberikan kepada api.Tidak hanya energi dari api; energi halus diciptakan oleh irama dan mantra. . Energi ini dihasilkan atau dorong ke atmosfer oleh api.. Ini, di samping kualitas bahan dibakar, menghasilkan efek penuh penyembuhan ini HOMA (api penyembuhan). Banyak energi penyembuhan berasal dari Agnihotra piramida.

  jumlah energi yang luar biasa berkumpul sekitar tembaga Agnihotra piramida hanya pada waktu Agnihotra.  Sebuah medan magnet-type dibuat, yang menetralkan energi negatif dan memperkuat energi positif. Oleh karena itu, pola positif yang dibuat oleh orang yang tidak Agnihotra hanya dengan / kinerjanya Agnihotra memurnikan suasana polutan dan menetralkan radiasi berbahaya. Suasana yang dihasilkan memberikan makanan untuk kehidupan tanaman.



. Agnihotra dan Tanaman: ghee ini didorong masuk ke dalam atmosfer dan menempel pada struktur molekul tanah, sehingga tanah untuk mempertahankan kelembaban lebih Tanaman tumbuh di atmosfer Agnihotra lebih mampu menahan kekeringan.  Agnihotra menyebabkan perubahan dalam struktur sel dari tanaman yang mengirim nutrisi lebih pada tanaman buah dan kurang ke daun, batang dan akar. . Banyak orang telah menemukan bahwa ukuran, rasa, tekstur dan produksi buah-buahan dan sayuran yang ditanam di atmosfer Agnihotra lebih unggul. . Kinerja Agnihotra di taman mengurangi masalah hama dan berkebun organik dan pertanian yang dibuat lebih mudah dengan menggunakan Homa (penyembuhan api) teknik.

. Obat sifat dari Agnihotra: Agnihotra memperbarui sel-sel otak, merevitalisasi kulit dan memurnikan darah. Ini adalah pendekatan holistik untuk hidup.  Banyak orang yang biasanya alergi terhadap asap mengalami efek penyembuhan dengan duduk di atmosfer Agnihotra. efek penyembuhan dari beberapa Agnihotra terkunci dalam abu yang dihasilkan.. Ribuan orang di berbagai belahan dunia telah mengalami penyembuhan luar biasa dari semua jenis penyakit dengan menggunakan abu Agnihotra.

dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar